CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »



NASEHAT - MENASEHATILAH DALAM KEBAIKAN DAN KESABARAN

►►►

Friday, July 29, 2011

APA HEBATNYA LAILATUL QODAR ???



Umur umat nabi Muhammad secara umum hanya berkisar 60 – 70 tahun saja. Hal ini telah ditegaskan nabi dalam salah satu hadis beliau. Betapa pendeknya umur umat akhir zaman ini bila dibandingkan dengan nabi Adam dan anak cucu beliau yang bertubuh sangat besar, serta berusia rata-rata 1000 tahun. Begitu juga dibandingkan dengan umat nabi Nuh yang rata-rata usia mereka sekitar 900 tahun. Betapa singkatnya usia kita umat akhir zaman ini…..!
Jika usia kita sangat singkat, maka itu berarti amal sholih kita pun sangat sedikit pula. Marilah kita berhitung mengenai umur kita, berkenaan dengan amal yang kita telah buat. Sejak bayi sampai usia baligh, yang rata-rata ambil ukuran 14 tahun, itu berarti 14 tahun usia kita berlalu tanpa hitungan amal sholih ( sebab masih kanak-kanak ). Dan, jika setiap harinya kita rata-rata bekerja mencari nafkah untuk diri dan ahli keluarga selama delapan jam per-hari, maka sepertiga dari hari kita telah digunakan untuk bekerja. Jika usia kita 60 tahun, berarti selama hidup masa bekerja adalah 20 tahun lamanya. Kemudian jika kita tidur rata-rata delapan jam sehari, itu berarti sepertiga hari kita gunakan untuk tidur pula. Berarti masa 20 tahun usia kita habis untuk tidur saja.
Jika kita total amal kita selama hidup 60 tahun, maka hasil yang didapat adalah sebagai berikut:
-  Masa kanak-kanak 14 tahun berlalu tanpa amal sholih yang berarti.
-  Masa bekerja 20 tahun dari 60 tahun usia kita, juga berlalu tanpa amal sholih yang berarti pula.
-  Sementara masa yang digunakan untuk tidur menghabiskan waktu 20 tahun lamanya.
Alangkah mengerikannya jika dihari kiamat nanti 54 tahun umur kita hanya berisi dalam buku catatan amal dengan amalan bermain-main masa kanak-kanak, bekerja dan tidur saja. Tinggal enam tahun sisa umur di luar tiga masa tersebut. Coba kita hitung berapa jam pula sehari yang kita gunakan untuk bermacet-macet dalam perjalanan, nonton tv, membaca Koran, bercanda dan bersenda gurau dengan keluarga serta teman-teman, buang air besar dan buang air kecil. Jangan-jangan total usia yang kita gunakan untuk beribadah dan berbakti kepada Allah paling-paling hanya dua tahun saja dari total usia kita 60 tahun itu.
Betapa malunya kita jika kelak di Padang Masyar setelah hari Kiamat,  dibariskan bersebelahan dengan umat-umat dahulu yang umur mereka ratusan tahun, pasti mereka
akan menghina kita karena merasa kita tidak pantas berdiri sejajar di sebelah mereka, sebab amal sholih kita sangat sedikit dibandingkan dengan amal mereka.
Hal ini pernah membuat Rasulullah risau dan menangis, seraya beliau berdoa kepada Allah: “Ya Allah janganlah engkau hinakan kami di hari kiamat”.


Atas doa dan kerisauan nabi dengan keadaan umat beliau, seperti yang digambarkan di atas, maka dengan kasih sayangnya Allah, umat akhir zaman ini diberi sebuah jalan pintas  untuk mengalahkan umat-umat terdahulu dalam menumpuk amal dengan memberi umat ini sebuah malam yang disebut “Lailatul Qadar”. Malam qadar ini khusus diturunkan Allah setahun sekali dalam bulan Ramadhan yang agung saja. Hal ini termaktub dalam penggalan hadis nabi yang berbunyi: “Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu satu bulan yang sangat agung, yang penuh dengan keberkatan di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. (HR. Ibnu Khuzaimah, Shoheh).
Betapa beruntungnya umat ini. Dengan rahmat Allah, jika umat ini beramal pada malam qadar itu, maka bayaran yang akan diperoleh adalah setara dengan amal seribu bulan, atau serupa dengan amal 83 tahun lamanya. Nah, andai saja seumur hidup seseorang dapat beramal pada malam qadar itu sebanyak sepuluh kali saja, maka orang itu tidak perlu lagi takut dihina umat terdahulu, sebab kadar amalnya setara dengan 830 tahun. Padahal umur orang itu yang sebenarnya hanya 60 tahun saja. Subhanallah……!
Pantaslah kiranya, nabi pernah bersabda bahwa  tidak boleh umat manapun memasuki surga Allah, sebelum umat nabi Muhammad memasukinya terlebih dahulu. Tentu saja umat nabi yang dimaksud disini adalah umat yang seumur hidupnya taat kepada Allah, dan sering mendapatkan lailatul qadar sebagai “time turnel” , yakni jalan pintas amal yang dahsyat itu.
Untuk mendapatkan malam Qadar, nabi telah bersabda: “Carilah lailatul qadar itu pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)
Dalam hadis yang lain dari Anas bin Malik dia telah berkata: “Ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya telah tiba bulan ini di hadapan kamu, di mana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari mendapatkan malam itu, maka sesungguhnya orang itu telah terhalang dari segala kebaikan. Dan tidaklah seseorang itu terhalang dari kebaikan kecuali dia benar-benar orang yang sial”. (HR. Ibnu Majah)
Semoga kita dapat menjaga malam yang penuh berkah itu dengan menjaga amal sholih kita selama bulan Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yang agung ini.
Wallahu A’lam bishowab, mudah-mudahan jadi renungan sebelum tidur

ROMADHON YANG DINANTI



KH Saifudin Amsir: Selamat Datang, Bulan Segala Harapan

WAWANCARA

Kurang dari sepekan lagi bulan suci Ramadhan 1432 H akan segera tiba. Inilah bulan yang istimewa bagi umat Islam di seantero jagad. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, rahmat serta ampunan. Bak tamu agung, kedatangan bulan suci ini dirindu dan dinanti segenap Umat Islam.
''Selamat datang wahai engkau bulan puncak segala harapan. Dengan kedatanganmu, hati yang berkarat ini akan lenyap karatnya dan lenyap pula segala duka cita,'' ujar KH Saifuddin Amsir, rais syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada wartawan Republika Damanhuri Zuhri.
Berikut petikan wawancara dengan Pembina Yayasan Terpadu Sibghatullah yang juga Pengasuh Betawi Korner di Jakarta Islamic Center (JIC) itu tentang cara menyambut Ramadhan:

Bulan suci Ramadhan 1432 Hijriyah akan segera tiba. Apa saja yang harus dipersiapkan umat Islam untuk menyambut tamu agung ini?
Ramadhan ini tergantung siapa yang menerimanya. Ramadhan disambut dengan berbagai cara dengan kualitas yang berbeda-beda pula. Kita bisa menyentuh ini lewat kasidah, Marhaban Ya Qadimal aan, Anta lii ghayah marami (Selamat datang wahai bulan yang tiba sekarang ini. Bagi aku, engkau adalah puncak segala harapan. Dengan kedatanganmu di hati yang berkarat itu lenyap karatnya dan lenyap pula segala duka cita).
Ada sebagian orang yang menjadikan Ramadhan sebagai suatu puncak harapan. Ghayah maram. Orang sekarang menyebutnya dengan istilah idola. Bagi mereka, sebelas bulan yang berlalu sampai kedatangan bulan Ramadhan, merupakan bulan-bulan penuh penantian. Sehingga, Ramadhan menjadi puncak tujuan.
Tak ada perbedaan pendapat mengenai Ramadhan dalam konteks pahala, karena hadisnya terlalu banyak. Pada bulan ini pahala dilipatgandakan. Tetapi yang amat penting untuk dimaknai bagaimana manusia bisa muncul sebagai makhluk Allah yang dimuliakanpada bulan Ramadhan.
Syahru Ramadhanalladzi unzila fiihil quranu hudallinnasi wabayyinaatim minal huda wal furqan (Bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan yang lebih konkret tentang petunjuk itu). Ini bukan hanya petunjuk secara global tetapi juga petunjuk-petunjuk dalam bentuk yang lebih parsial dan lebih rinci.

Artinya, turunnya kitab suci Alquran menambah kemuliaan bulan Ramadhan?
Betul. Bahkan kalau kita baca ayat, hudallinnasi wabayyinaatim minal huda wal furqan (sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan yang lebih konkrit tentang petunjuk itu dan dialah pembeda). Pembeda apa? Pembeda antara yang haq dan yang bathil. Manusia selamanya dalam kegelapan. langkah-langkah hidupnya menjadi tidak menentu, manakala tak dibimbing untuk membedakan antara yang haq dan bathil.
Secara umum pada bulan turun Alquran itu ada satu kenangan yang mengandung misi dan pesan yang harus terus diputar ulang. Ada kaleidoskop misi yang paling fundamental di bulan Ramadhan yang bukan saja harus diingat tetapi dilekatkan dalam hati dan tingkah laku.

Misi dan pesan seperti apa?
Malam turunnya Alquran saja mendapat julukan lailatul qadar (malam keagungan). Arti kemanusiaan menjadi sangat berbeda antara yang ada pada masa sebelum Alquran dengan masa sesudah Alquran diturunkan. Dengan turunnya Alquran, dunia kemanusiaan yang tak memandang Timur dan Barat telah mengalami era Renainans atau pencerahan.

Rasulullah SAW disebutkan dalam banyak hadis pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan lebih mengencangkan sarung, membangunkan keluarga dan memperbanyak ibadah?
Ya. Begitu banyak orang yang berharap bertemu dengan Lailatur Qadar, karena malam itu bukan hanya sekadar menuangkan sesuatu yang melulu dalam konteks pahala tetapi kesempurnaan kemanusiaan, sampai kaum malaikat pun diperintahkan Allah untuk mengagungkan manusia. Itu membentuk jutaan insan kamil. Insan yang sempurna ketika pengertian-pengertian filosofis, pengertian-pengertian penuh hikmah dari Lailatul Qadar itu dirasakan oleh manusia.
Jadi saat itu dia berhak untuk disalami oleh para malaikat yang mempunyai kedudukan sebagai makhluk yang paling suci di sisi Allah SWT. Jadi, harus ada pemahaman yang lebih jelas tentang lailatul qadar. Dia merupakan fase pemisah dari gaya hidup, cita-cita hidup, konsep hidup yang dimiliki oleh manusia itu akan sangat berbeda dengan pada saat mendapatkan Alquran dari Rasulullah SAW. Hal itulah yang menjadi sangat bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Jadi bulan suci Ramadhan ini umat Islam bukan hanya ibadah puasa, tetapi juga mencapai kemuliaan?
Dalam lirik kasidah disebutkan, anta lii ghayah marami (Buat aku, engkau (bulan Ramadhan, red) adalah puncak segala tujuan, puncak segala harapan), Puncak segala tujuan itu menjadi terkonsentrasi pada bagian yang paling atas. Pada level yang paling mulia yaitu tingkat kemuliaan manusia yang terjadi secara faktual pada saat itu.
Inilah yang menyebabkan pada kalangan-kalangan tertentu pahala bukan menjadi sesuatu yang sangat dilirik, tetapi isi yang diiringi oleh pahala-pahala itulah yang paling dinantikan oleh orang-orang yang merindukan kedatangan Ramadhan.

Kalau begitu, setiap umat Islam harus mampu mempersiapkan dirinya dengan baik untuk menyambut bulan yang penuh keberkahan, penuh rahmat serta penuh kemuliaan ini?
Setiap umat harus menegakkan eksistensi kemanusiaannya dengan mengangkat tangan bertakbir untuk menghadapkan dirinya kepada Allah, lalu merunduk dalam ruku' sebagai pengakuan. Sebesar apapun aku dalam posisi tegak tetap menjadi lemah di hadapan Dia. Lalu perlahan dia mulai merunduk sampai pada akhirnya dia merunduk sehabis-habisnya.
Cara merunduk yaitu paling dekat dengan bumi, merendah diri ke hadapan Allah secara total. Namun saat dia merendahkan diri itulah datang satu posisi yang disebut dalam hadis Rasulullah Aqrabu maa yakunul abdu min rabbihi wahuwa sajidun (sedekat-dekat posisi seorang hamba dengan Tuhannya yaitu pada saat dia sujud).

Jadi, dia tidak merendahkan diri tetapi dalam posisi kerendahan itu dia menjadi semakin dekat. Itu yang mesti diperbanyak di saat orang melakukan puasa. Jadi bukan puasa sebagai melakukan ritualitas hambar yang hanya kelihatan secara fenomenal dengan berbuka yang meriah, dengan segala macam atribut-atribut yang di luar dengan segala macam yang bersifat eksetoris itu.

Rasulullah SAW mengingatkan, ''Siapa yang bergembira hati dengan datangnya bulan suci Ramadhan, maka Allah akan singkirkan dia dari sentuhan api neraka.'' Selamat datang bulan Ramadhan!